Bengkalis

Nestapa Konflik Manusia- Harimau

PORTALBUANA.COM BENGKALIS Selasa 13/03/2018 Nasib seekor harimau sumatera betina yang dipanggil dengan nama Bonita kini sedang berada di ujung tanduk. Dengan kasus penerkaman harimau sumatera di kawasan Landscape kerumutuan – Indragiri hilir, Indonesia beberapa waktu silam. 
Hutan sebagai habitatnya yang kian mneyempit akibat berdirinya perusahaan perkebunan didalamnya membuat harimau sumatera terancam kehidupannya, belum lagi hewan-hewan yang biasa dimangsa olehnya sebagai makanan pun turut serta musnah akibat dari rusaknya ekosistem yang ada. 2 kasus terjadi hanya berselang 2 (dua) bulan saja. Awal januari lalu seorang wanita bernama Jumiati, seorang buruh kelapa sawit tewas akibat terkaman harimau, lalu beberapa waktu yang lalu seorang pekerja bangunan bernama Yusri pun turut menjadi korbannya.
Kini kemarahan warga tak dapat di bendungkan, dengan di tanda tanganinya surat perjanjian yang mengatakan bahwa jika dalam waktu tertentu pihak berwajib dalam hal ini BKSDA tidak dapat membunuh harimau tersebut maka warga akan melakukan segala cara dan tidak akan dikenai sanksi hukum apapun. Jelas ini bukanlah solusi dari sebuah masalah, kawasan hutan yang di berikan oleh KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Indonesia) sebagai kawasan yang di kelola oleh perusahaan dengan tujuan untu menjaga kawasan inti dari sebuah ekosistem jelas tidak tepat sasaran. Karena disaat terjadinya konflik-konflik seperti hal ini, perusahaan ikut mendukung aksi dari pemburuan dan pemusnahan harimau suamtera. 
 
“Jika sanggup dan menerima sebagai pengelola Hak Guna Usaha (HGU)  Hutan, maka perusahaan harusnya juga siap untuk menjadi pengelola kawasan lindung dan juga habitat satwa yang ada didalamnya”, ungkap Zulhusni Syukri Direktur Eksekutif RSF. Husni juga mengungkapkan keprihatinan atas kasus ini, semoga BKSDA Riau bisa menyelamatkan Bonita dan tidak ada kerugian dari kedua belah pihak lagi, tutupnya.
 
 Dengan melihat kondisi saat ini, perusahaan seakan tidak memberikan solusi untuk hal sebesar ini. Tim BKSDA yang berada di hirarki terbawah menjadi korban dari rusaknya sistem komunikasi di pemerintahan.“hal yang sangat di sayangkan, komunkasi stakeholder tidak singkron, dan menyebabkan korban bagi mausia yang berimbas kepada satwa tentunya”,  kata Ade Kurniawan selaku Deputi RSF.
 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ia menambahkan, Disorientasi yang terjadi pada harimau tersebut dikarena hal yang sangat mendasar, yaitu habitat dan pakan. Setelah itu terjadi perubahan pola makan yang signifikan, seperti halnya Manusia yang terbiasa makan nasi putih biasa, dan kemudian memakan nasi jagung yang ternyata jauh lebih enak dan lebih mudah didapat.  Terlepas dari pada hal tersebut ia menghimbau bahwasanya ini adalah tanggung jawab dari Kmentrian Lingkungan Hidup & Hutan Indonesia (KEMENLHK), BKSDA hanya yang akan menjadi penerima dampak langsung terkait konflik yang di timbulkan oleh kebijakan, kebijakan yang ada, Pungkasnya. (solfa)
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERBARU

To Top
Translate »